Recent Posts

Rabu, 31 Januari 2018

4 Niat dalam dakwah




Niat begitu penting kedudukannya dalam agama. Tanpa kecuali dalam dunia dakwah.  Seorang dai yang salah niat, bukan hanya dakwahnya tidak merasuk ke hati ummat, tapi lebih dari itu Allah akan  mengancamnya dengan  siksaan . ya, siksaan bagi para dai yang berdakwah semata-mata untuk kepentingan dunia.

 “ Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. ( QS. Al-Imran : 152 )

Coba kita pelajari lagi sejarah.! Kita lihat kisah dalam perang uhud. Telah  terjadi perbedaan niat para sahabat yang ikut perang pada saat itu. Rasulullah melarang pasukan panah turun sebelum ada perintah dari beliau, namun pasukan yang berada di atsa bukit tidak mentaatinya karena tergiur oleh rampasan perang ( ghanimah). Maka saat itu niat perang yang awalnya untuk kepentingan agama, berubah menjadi kepentingan dunia. Pada saat yang sama Allah mencabut pertolongan-Nya sehing akaum muslimin mengalami kekalahan.
Bila dalam dakwah niat ada perbedaan niat, yakni ada yang menginginkan pahala dan sebagian menginginkan dunia maka pertolongan Allah swt tidak akan turun. Begitulah hari ini, jamaah dengan tulus ingin mendengarkan agama agar faham agama, sedangkan mubalignya niatnya mendapatkan bayaran, maka tidak nyambung. Dan sebagai akibatnya, dakwahnya tidak berbekas ke dalam hati. Sehabis ceramah nonton TV, ngomongin orang, sibuk shoping, ke kolam renang dan sebagainya. Jamaah tiadak ada kekuatan mengamalkan apa yang di dengarnya dari sang mubalig. Oleh karena itu hendaknya dalam berdakwah diniatkan :

Niat Pertama Ishlah diri ( memperbaiki diri )
Niat dakwah adalah untuk memperbaiki diri dan sebagai tarbiyah ( pendidikan  ) terhadap ummat untuk mencapai sifat – sifat :
a.      Iman dan yakin seperti iman dan yakinnya Rasulullah
b.     Fikir dan risau seperti fikir dan risaunya Rasulullah
c.      Maksud dan tujuan hidup seperti maksud dan tujuan hidupnya Rasulullah
d.     Mizas atau kecintaan seperti kecintaan yang dimiliki Rasulullah, dan
e.      Tertib hidup seperti tertib hidup yang dijalankan oleh Rasulullah.

Niat Kedua Dakwah sebagai maksud hidup
Manusia dilahirkan ke dunia ini bukan tanpa maksud dan tujuan. Setiap manusia tentu ingin hidupnya sukses di dunia sampai akherat nanti. Namun rasanya manusia sulit mencapai sukses bila tidak ada contoh yang harus di duplikasi. Oleh karena itu Allah swt memberikan contoh bukan hanya seorang, tetapi beribu-ribu dan dalam waktu yang sangat panjang. Sejak nabi Adam hingga khotamun nabiyyin, Muhammad Rasulullah saw.  Orang-orang sukses adalah para Nabi a.s dan yang gagal adalah para penentangnya.
Maksud dan tujuan manusia diciptakan oleh Allah swt adalah  pertama untuk beribadah kepada-Nya, kedua sebagai khalifah dan ketiga untuk meneruskan usaha Nubuwwah ( kerja kenabian).
Tugas yang pertama untuk beribadah kepada Allah sebagai firman Allah dalam Al-Qur’an surat Adz-dzariyat ayat 56 yang berbunyi :

  “ Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.( QS. Adz-Dzariyat : 56 )

Ternyata yang beribadah kepada Allah bukan hanya manusia tetapi juga seluruh makhluq  dimuka bumi ini sesuai dengan caranya masing-masing.

  idaklah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan.  An-Nur : 41                                                                                   QS.

Tugas yang kedua sebagai Khalifah di permukaan bumi. Ketika Allah memproklamirkan Nabi Adam a.s sebagai khalifah, maka pada saat itu para malaikat beramai-ramai protes ,
  
   “ Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." ( QS. Al-Baqarah : 30 )
Sifat khalifah adalah mengumpulkan orang banyak untuk memberi manfaat pada mereka, bukan sebaliknya mengumpulkan orang banyak untuk mengambil manfaat dari mereka. Sifat inilah yang harus diusahakan dalam diri kita, tidak hanya terbatas kepada manusia tetapi seluruh makhluk.

Tugas manusia ketiga adalah melanjutkan usaha nubuwwah. Tugas ini adalah merupakan kerjanya para Nabi, yakni mengajak manusia untuk taat kepada Allah swt. Setelah Rasulullah wafat, tugas ini diembankan kepada ummatnya. Seluruh sahabat r.a baik laki-laki dan wanita, yang belia sampai yang dewasa bertanggung jawab untuk mewujudkan dan menyebarkan agama keseluruh alam. Sehingga risalah ini sampai kepada kita.
Kerja Nubuwwah adalah dakwah. Yang pertama kali dakwah adalah Allah swt. mengajak  kepada kampung keselamatan,
  
  “ Allah menyeru (manusia) ke darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang Lurus (Islam) ( QS. Yunus : 25 )

Arti kalimat darussalam Ialah: tempat yang penuh kedamaian dan keselamatan. pimpinan (hidayah) Allah berupa akal dan wahyu untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
Apabila dakwah kita jalankan maka hidayah akan turun, iman meningkat, amal agama meningkat, hati menjadi tenang, hidup tentram dan mulia, semangat mengamalkan agama, lahir pemimpin yang adil dan shaleh, keadilan akan terwujud dan keberkahan akan turun dari langit.

Niat Ketiga Siap dakwah di berbagai medan
Siap dakwah di berbagai medan seharusnya menjadi pegangan para dai.  Haji Musa Al-Enjoy dalam bukunya dai bayaran menuturkan bahwa ada seorang ustadz tidak datang kesuatu masjid yang menjadwalkannya dalam shalat jum’at dan mengirim penggantinya yang baru belajar. Ketika sang badal ditanya kemana ustadz yang seharusnya bertugas. Maka dijawab bahwa ada khutbah tempat lain yang mendadak waktunya bersamaan. Dan setelah di usut ternyata bayaran ceramahnya lebih besar dari masjid yang sudah menjadwalkannya.

Niat Ke empatMengharap Ridho Allah
Islah diri bisa berarti memperbaiki diri dengan usaha dakwah, ta’lim, ibadat, dzikir dan khidmat ( pelayanan kepada ummat).
Apakah kita ingin menjadi seorang da’i terkenal,
               dengan bayaran mahal,
              dakwah dari masjid, instansi sampai mall,
              disanjung orang sebagai ustadz yang handal,
              hebat, ngetop dan profesional?

Atau kita terobsesi menjadi ustadz kondang,
 masuk deretan ulama terpandang,
 yang setiap  kali datang,
 tangan  menjadi rebutan orang
                 untuk dicium  sebagai tanda hormat dan sayang.

 Boleh jadi  kita ingin jadi ulama hebat,
 dengan jam terbang padat,
 punya rumah mewah bertingkat,
mobil mengkilap berjejer empat,
memiliki harta berlipat
 selalu di dampingi  istri cantik  memikat,
 di kelilingi anak yang manis dan sehat – sehat,
kemana – kemana dengan pengawalan ketat,
kanan kiri ada body guad yang kuat – kuat,
 punya simpanan deposito dan  tabungan berlipat,
 ditambah dengan kedudukan terhormat,
 tersanjung di tengah masyarakat,
dan selalu di elu-elukan oleh ummat !

Atau sekedar menjadi ustadz sederhana
hidup berkah apa adanya
kemana – mana jalan kaki atau roda dua
paling banter punya kijang grand ekstra
syukur bisa menjalankan rukun islam ke lima
waktu, harta dan tenaga
untuk kepentingan ummat dan agama
dia dakwah sekedar cari pahala
mengharap ridho Allah dan masuk syurga

menjadi da’i sekedar panggilan hati,
 penerus risalah perjuangan  Nabi,
mengemban tugas mulia dan suci
sebagai  penyambung lidah illahy

Silahkan anda pilih kawan !
di sini ada dua pilihan
hidup mewah serba kecukupan
namun keihlasan,
akan menjadi taruhan
atau hidup yang penting ada keberkahan
walau serba pas-pasan
harta Sekedar untuk memenuhi keperluan
yang penting dan signifikan
tetap bisa menjaga iman
khusnul khatimah yang kita harapkan
Amien...Ya Allah kami panjatkan !

Ada ustadz mengajar rutin mingguan di jakarta. Selesai mengajar, petugas yang biasa memberi transport berhalangan. Ketika minggu berikutnya beliau mengajar lagi dan uang minggu kemarin juga belum dikasihkan, maka sang ustadz protes, ” Bayaran saya yang dua minggu sebelumnya belum dibayar lho ! ”

Karena selalu dibayar saat menyampaikan agama, maka jadilah uang tujuan dalam berdakwah.jumlah uang sudah terbayang saat berangkat mengajar.

Ada juga, seorang kyai besar. Pengasuh sebuah pondok pesantren dengan sekolah formal dengan berbagai tingkatan di dalamnya. Lebih dari sejahtera taraf ekonominya di banding teman-teman seangkatan di kotanya. Tidak jarang memanfaatkan mencari dana buat pesantren yang dikelolanya dengan menggelar sorban setiap selesai ceramah. Sambil membaca sholawat, panitia membawa sorban dari satu pengunjung ke pengunjung yang lain guna mengumpulkan dana.

Sungguh sangat ironis dunia dakwah saat ini. Penceramahnya selalu menekankan pentingnya sebuah keikhlasan, sementara dia sendiri berceramah karena ada motiv bayaran.

Semoga Allah melindungi kita dari semua ini!!
( Gus Isqowi )